Iklan

Mengenal Komodo, Kadal Raksasa Prasejarah


Sebagai orang Indonesia, kita wajib menjaga dan melestarikan kekayaan alam negeri kita baik flora maupun fauna. Salah satunya tentu saja mulai dengan mengawali untuk mengenal komodo yang merupakan hewan khas dari Indonesia. Komodo, atau kadal monitor Komodo, adalah kadal terbesar dan terberat di dunia serta satu dari sedikit kadal dengan gigitan berbisa. Para kadal ini merupakan pemburu yang memiliki tenaga yang kuat serta mengandalkan indera penciuman mereka untuk mendeteksi makanan.

Sebagai kadal monitor, Komodo menggunakan lidah mereka yang panjang dan bercabang untuk mencicipi bau di udara. Mereka dapat menghabiskan waktu berjam-jam menunggu makanan yang berukuran besar yang berkeliaran dalam jangkauan mereka sebelum meluncurkan serangan mematikan dengan gigi besar, melengkung dan bergerigi.

Mengenal komodo

Ukuran

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kali ini kita akan mengenal Komodo dari ukurannya yang terbilang raksasa untuk seekor kadal atau reptil. Komodo adalah kadal hidup terbesar di dunia.  Naga liar ini biasanya memiliki berat sekitar 70 kilogram, tetapi spesimen terbesar yang diverifikasi mencapai panjang 3,13 meter dan beratnya mencapai 166 kilogram. Komodo jantan cenderung tumbuh lebih besar dan memiliki ukuran tubuh yang lebih besar daripada Komodo betina.

Habitat Asli

Selain ukuran tubuh raksasanya kita juga perlu mengenal dimana kadal prasejarah ini hidup. Habitat asli dari Komodo terbatas pada beberapa pulau di Indonesia dari kelompok Sunda Kecil, atau letaknya ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur yakni pulau Rinca, Padar dan Flores, dan tentu saja pulau Komodo, yang terbentang sepanjang 35 kilometer.

Dari catatan sejarah, awalnya Komodo belum terlihat di Pulau Padar hingga tahun 1970-an. Para Komodo ini hidup di hutan savana tropis dan tersebar luas di seluruh pulau, dari pantai hingga puncak bukit.

Makanan

Kini kita akan mencoba untuk mengenal Komodo dari makanannya. Seperti kebanyakan reptil yang merupakan karnivora, Komodo memakan hampir semua jenis daging, hanya saja mereka mencari bangkai atau hewan penguntit yang ukurannya bervariasi dari tikus kecil hingga kerbau besar.  Untuk Komodo muda umumnya memangsa kadal kecil, serangga, serta ular dan burung.  

Apabila Komodo muda ini dapat hidup sampai 5 tahun, mereka akan mencari mangsa yang lebih besar, seperti tikus, monyet, kambing, babi hutan dan rusa yang merupakan makanan paling favorit mereka. Pasalnya, Komodo ini merupakan predator tersier di posisi paling atas rantai makanan mereka namun juga memiliki sifat kanibalistik.

Teknik Berburu

Selain mengenal Komodo dari apa yang dimangsa, kita juga bisa mengenali komodo dari bagaimana mereka berburu. Komodo dapat secara singkat berlari hingga mencapai kecepatan 16 hingga 20 kilometer per jam dan mereka menekankan strategi perburuannya pada bersembunyi dan kekuatan menerkam.

Para Komodo ini juga bisa menghabiskan waktu berjam-jam di satu tempat di sepanjang jalur mangsanya untuk menunggu rusa sebagai mangsa favoritnya atau mangsa lain yang cukup besar dan bergizi untuk menyeberang jalan didekatnya sebelum kemudian meluncurkan serangannya. Apabila tertangkap, Komodo takkan melepas buruannya. Namun, apabila terlepas, kematian yang panjang dan menyakitkan akan datang akibat gigitan dan air liurnya.

Sebagian besar upaya Komodo untuk menjatuhkan mangsa tidak berhasil, selain karena ukuran yang kalah besar. Namun, jika ia mampu menggigit mangsanya, bakteri dan racun dalam air liurnya akan membunuh mangsanya dalam beberapa hari. Setelah hewan itu mati, yang mana bisa memakan waktu hingga empat hari, Komodo akan menggunakan indra penciumannya yang kuat untuk menemukan bangkai mangsanya. Bangkai ini seringkali dimakan oleh banyak komodo sekaligus.

Gigitan Komodo mungkin mematikan bagi mangsanya, akan tetapi tidak untuk Komodo lainnya.  Hal ini terbukti pada Komodo yang terluka saat bertarung satu sama lain yang mana dari luka tersebut Komodo tidak terpengaruh oleh bakteri beracun dari air liurnya tersenut. Para ilmuwan masih meneliti antibodi dalam darah komodo yang mungkin bertanggung jawab akan daya tahan tubuh mereka terhadap bakteri.

Gigi Komodo yang besar, melengkung, dan bergerigi ini adalah senjata yang paling mematikan, karena dapat merobek daging dengan efisien. Gerigi gigi yang menahan potongan daging dari makanannya terdapat residu kaya protein ini mendukung sejumlah besar bakteri. Sekitar 50 jenis bakteri yang berbeda dan yang mana setidaknya tujuh di antaranya sangat berbahaya.

Para peneliti yang berusaha mengenal Komodo lebih lanjut juga mendokumentasikan keberadaan kelenjar racun di rahang bawah naga hidup tersebut. Jadi selain bakteri berbahaya yang hidup dalam liurnya, Komodo juga ternyata memiliki racun yang akan mencegah darah dari pembekuan. Hasilnya mengerikan bagi mangsanya yang akan kehilangan banyak darah dan juga menyebabkan syok.

Selain mengenal Komodo dari air liurnya yang beracun, kemampuan lainnya yang tidak kalah hebat adalah dapat melihat benda sejauh 300 meter. Selain itu juga, mata Komodo lebih baik dalam melihat suatu gerakan ketimbang melihat benda diam yang tajam. Retina mereka hanya memiliki bentuk kerucut sehingga mereka mungkin masih dapat membedakan warna tetapi memiliki penglihatan yang buruk dalam cahaya redup. 

Indera penciuman komodo menjadi pendeteksi makanan utamanya. Komodo menggunakan lidahnya yang panjang, kuning, bercabang untuk mencicipi molekul bau udara. Kemudian memindahkan ujung lidah bercabang ke atap mulut, di mana lidah Komodo tersebut melakukan kontak dengan organ-organ Jacobson. Dari hasil analisa kimia ini Komodo dapat "mencium" mangsa, seperti rusa, dengan mengenali molekul-molekul yang ada di udara. 

Cara kerja dari indera ini adalah apabila konsentrasi molekul yang ada di ujung kiri lidah lebih besar dari sampel kanan, Komodo akan tahu bahwa rusa mendekat dari kiri. Sistem ini, bersama dengan jalan tanpa diatur, di mana kepala berayun dari sisi ke sisi, membantu naga merasakan keberadaan dan arah makanan. Kadang-kadang, reptil ini bisa mencium bau bangkai, atau daging busuk, hingga 4 kilometer jauhnya.

Selanjutnya, mengenal mengenai indera lainnya seperti dalam hal pendengaran. Komodo memiliki jangkauan pendengaran yang jauh lebih kecil daripada manusia dan hasilnya mereka tidak dapat mendengar suara seperti suara bernada rendah atau jeritan bernada tinggi. Inilah yang mungkin menjadi kelemahan dari hewan raksasa ini.


Belum ada Komentar untuk "Mengenal Komodo, Kadal Raksasa Prasejarah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel