Iklan

Jenis Burung Hantu Terancam Punah di Indonesia

Tak ada bosannya saya membahas burung hantu. Tiap tahunnya, peminat burung ini semakin meningkat. Mereka terpesona oleh keindahan dan keunikan burung karnivora yang satu ini. Sebelumnya kita telah membahas tentang  Burung hantu beserta manfaatnya dan juga Perlindungan burung hantu di Indonesia. Kali ini, kita akan membahas lebih rinci jenis  burung hantu apa saja yang terancam punah di Indonesia. Seperti yang  sudah kita ketahui sebelumnya, bahwa di Indonesia terdapat 54 jenis burung hantu dari total keseluruhan 222 jenis burung hantu yang ada di dunia. Hal ini membuat kita bangga dan tentunya kita juga turut andil melestarikan burung hantu agar tidak terancam punah keberadaannya. Dari 54 jenis burung hantu, 16 jenisnya sudah sedikit jumlahnya di alam liar dan berstatus dilindungi oleh negara. Saya akan mengulas dari 16 jenis burung hantu, jenis mana saja yang sudah mengkhawatirkan dalam artian masuk kedalam kategori "Terancam Punah". 

Pengelompokannya dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan Indicator status konservasi, yang pertama  Critical Endangered/CR (Terancam Kritis), kedua Endangered/ EN(Terancam), ketiga Vulnerable/VU(Rentan Terancam). Status konservasi tersebut merujuk pada 2 lembaga internasional yaitu Internasional Union For Conservation of Nature (IUCN) dan Convention On Internasional Trade In Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITEZ). Kedua lembaga tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk melindungi tumbuhan dan satwa langka dengan  cara melakukan konservasi, mengawasi, mengontrol perdagangan tumbuhan dan satwa langka agar tidak terancam punah. Mari simak jenis burung hantu yang termasuk ke dalam 3 kategori  Terancam punah Menurut data IUCN Red list Dan CITEZ Appendix.  

1. Celepuk Siau
Burung Hantu Terancam Punah

Jenis Burung hantu terancam punah yang menduduki peringkat pertama di Indonesia yaitu Celepuk Siau. Bernama latin Otus Siaoensis dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Siau Scops owl. Burung ini endemik dari  pulau Siau, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Burung ini ditetapkan  oleh IUCN berstatus "Terancam Kritis (Critically Endangered)" sejak tahun 2000. Tak hanya itu CITEZ juga memasukkan dalam daftar perdagangan internasional berstatus "Appendix II" sejak tahun 1998. Burung ini sendiri ditemukan pada tahun 1866 di pulau Siau, Sulawesi Utara berupa koleksi burung Celepuk Siau yang sudah diawetkan. Keberadaannya sampai sekarang sangat jarang sekali terlihat. Kerusakan Habitat disinyalir sebagai penyebab langkanya burung Celepuk Siau. Luas Hutan  yang semakin sempit dan berkurang dikarenakan  alih fungsi hutan menjadi  pemukiman atau lahan pertanian. Pernah dilakukan penelitian keberadaan burung Celepuk Siau   oleh organisasi IUCN red list dan bird life internasional pada tahun 1999. Akan tetapi survey lapangan selama 32 hari yang dilakukan, tidak menemukan keberadaan burung Celepuk Siau. Hanya mendapatkan informasi dari hasil wawancara dengan masyarakat setempat yang pernah melihat burung tersebut. Sejauh ini diketahui ciri-ciri burung Celepuk Siau berukuran sekitar 17 cm. Warna tubuh didominasi warna coklat. Data mengenai ciri-ciri , jumlah populasi, daerah persebaran masih sangat sedikit. Dibutuhkan survei lanjutan untuk memastikan jumlah Celepuk Siau di alam liar dan mengupayakan konservasi yang intensif agar burung ini tidak punah. 

2.  Serak Taliabu


Serak Taliabu Burung Hantu Terancam Punah
                           GAMBAR: @ ROB HUTCHINSON

Jenis burung hantu terancam punah selanjutnya adalah Serak Taliabu. Burung ini bernama latin Tyto nigrobrunnea dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Taliabu masked owl. Burung hantu ini endemik dari Kepulauan Sula, Maluku Utara. Lebih tepatnya bisa anda temui di Pulau Taliabu, Kabupaten Sula, Maluku Utara. Serak Taliabu termasuk jenis burung hantu yang berukuran besar. Panjang tubuhnya berkisar antara 30 sampai 32 cm, Untuk rentang sayapnya sekitar 28 Cm. Tak hanya itu panjang ekornya sekitar 12 cm. Warna tubuh bagian atas berwarna hitam keabu-abuan atau gelap sedangkan warna tubuh bagian bawah berwarna coklat keemasan disertai bintik-bintik hitam. Bagian muka berwarna coklat kemerah-mudaan, warna bulu disekitar mata hitam keabu-abuan atau gelap dan iris mata berwarna hitam gelap. Bagian kaki berwarna abu-abu dan cakar berwarna hitam. Habitat burung ini ada di hutan pamah tebang pilih. Daerah persebarannya pun hanya di pulau Taliabu, Kabupaten Sula, Maluku Utara. Yang jelas Burung ini sudah jarang ditemukan di alam liar. Untuk populasi burung ini, di alam liar belum diketahui pasti jumlahnya. Birdlife memperkirakan, terdapat sekitar 250 sampai 1000 ekor burung Serak Taliabu usia dewasa di alam liar dari total keseluruhan dibawah 1500 ekor. Dengan begitu, diperkirakan populasi burung serak Taliabu terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Salah satu faktor Penyebabnya karena kerusakan hutan dan sempitnya daerah persebaran kurang dari 5000 km2, tiap tahunnya terus menerus mengalami penurunan dari segi luas dan kualitas hutan. Oleh sebab itu IUCN Red list menetapkan status konservasi burung serak Taliabu "Terancam Punah (Endangered)". Dan CITEZ menetapkan dalam perdagangan internasional berstatus "Appendix II".

3. Celepuk Flores

Celepuk Flores Burung Hantu Terancam Punah
Celepuk Flores (Otus alfredi) di Ruteng. Gambar © James Eaton/Birdtour Asia – orientalbirdimages.org

Burung hantu Celepuk Flores atau Flores Scops Owl, Bernama latin Otus Alfredi merupakan burung hantu endemik dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Yang Pertama menemukan dan mengidentifikasinya adalah Hartert pada tahun 1896, keberadaannya ditemukan di pegunungan Todo dan Ruteng, yang terletak di sisi barat Pulau Flores. Populasi burung ini setiap tahun semakin menurun. Diperkirakan ada 3000 - 4000 ekor burung celepuk Flores di alam liar. Salah satu faktor penyebab langkanya burung ini adalah hilangnya habitat sebagai akibat kerusakan hutan oleh manusia dan maraknya perburuan liar untuk dijual dengan kisaran harga Rp.150.000 sampai Rp.200.000 per ekornya.

Oleh sebab itu lembaga IUCN menetapkan  burung ini berstatus "Terancam Punah"(Endangered) Dan untuk  CITEZ, didaftar "Appendix II." Ciri fisik burung hantu ini yaitu berukuran 19 - 21 cm, Dominasi warna bulu tubuhnya berwarna merah karat, pada area muka berwarna coklat kemerahan tanpa garis, Bagian alis dan dahinya berwarna putih, leher belakang terdapat pita putih kecil berbentuk segitiga, Warna sayap bercorak merah karat dan putih, Tubuh bagian bawah berwarna putih, dan Iris mata, paruh, kaki dan cakar berwarna kuning.  


4. Celepuk jawa

Celepuk jawa Burung Hantu Terancam Punah

Spesies jenis burung hantu langka selanjutnya adalah celepuk jawa atau Javan Scops Owl. Nama latinnya Otus Angelinae merupakan endemik dari pulau Jawa. Persebaran burung ini hanya sebatas di pulau Jawa. Keberadaannya dapat anda temui di daerah pegunungan antara lain Gunung Ijen Gunung Salak Gunung Pangrango, gunung Slamet, Gunung Ciremai dan gunung Tangkuban Perahu. Ciri khas burung ini yaitu bertubuh kecil panjangnya sekitar 16 sampai 18 cm, beratnya sekitar 71 sampai  90 gram. Tubuh bagian atas dominan berwarna coklat keabu-abuan, bercoret rapat dan berbecak hitam. Tubuh bagian bawah bercoret dan bergaris hitam sekitar dada, keputihan sekitar perut. Alis berwarna putih terang benderang dan iris mata kuning keemasan. 

Populasi Celepuk jawa dari tahun ke tahun semakin menurun. Diperkirakan di alam liar ada sekitar 10.000 ekor. Faktor penyebab penurunan ialah hilangnya habitat karena  deforestasi hutan atau alih fungsi hutan menjadi pertanian atau pemukiman oleh manusia. IUCN red list memberikan status konservasi burung celepuk jawa, "Rentan Terancam (Vulnerable/VU)" dan didaftar CITEZ, "Appendix II."

5. Celepuk Biak

Celepuk biak Burung Hantu Terancam Punah
      Celepuk Biak, P. Biak, Papua © Michael Johansson

Celepuk biak adalah burung hantu  endemik dari Pulau Biak tepatnya di teluk  Geelvink yang berada pada  barat laut Papua, dulunya dikenal dengan nama Irian Jaya dan termasuk burung yang berstatus dilindungi. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama  Biak Island Scoops Owl sedangkan Nama latinnya ialah Otus Beccarii. Banyak yang mengira burung ini sama dengan serak Hitam. Padahal sangat berbeda, terutama pada famili dan ordo. Celepuk biak berada di famili Strigidae dan ordo Otus sedangkan Serak Hitam dari famili Tytonidae dan genus Tyto. Celepuk biak tergolong burung hantu  berukuran  sedang yaitu sekitar 20 sampai 25 Cm. Warna tubuh burung ini dominan berwarna coklat. Tubuh bagian atas bercoretan warna coklat lebat dengan bercak putih pada skapular. Sedangkan tubuh bagian bawah berwarna coklat atau merah karat dan juga muka Burung ini terlihat pucat sehingga menjadikan keunikan tersendiri.  Habitat Celepuk biak adalah hutan diantaranya seperti hutan tebang pilih dengan ketinggian 300 m. Burung  ini biasanya juga menghuni hutan rawa dekat pesisir yang terlindung tebing karst. Burung ini biasa memakan vetebrata kecil atau serangga. Populasi burung ini belum diketahui jumlahnya dan juga masih sangat sedikit informasi mengenai burung yang satu ini. Pernah dilakukan survey tahun 1973 namun hanya menemukan sepasang Celepuk biak di habitatnya. Berlanjut dilakukan survey sekitar tahun 1990 an namun tidak berhasil menemukan Celepuk Biak. IUCN red list menetapkan status konservasi Burung ini "Rentan Terancam (Vulnerable/VU)" Dan juga status perdagangan internasional terdaftar pada CITEZ "Appendix II".

6. Serak Minahasa


Serak Minahasa Burung Hantu Terancam Punah

Serak Minahasa bernama latin Tyto Inexspectata dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Minahassa Masked Owl. Burung langka, endemik dari pulau Sulawesi ini memiliki ciri-ciri tubuh besar, panjang tubuh sekitar 30 Cm,Warna muka merah karat, Warna tubuh bagian atas merah karat sedangkan warna tubuh bagian bawah merah karat disertai bintik hitam. Secara keseluruhan warna serak Minahasa dominan merah karat.  Habitat dari burung ini sendiri adalah hutan, namun hutan yang masih sedikit kerusakan. Sedangkan persebaran burung ini meliputi wilayah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah. Status konservasi burung ini adalah "Rentan Terancam (Vulnerable/UV)", dan status  perdagangan internasional "Appendix II"

7. Pungguk Merah Tua

Pungguk merah tua  Burung Hantu Terancam Punah

Burung hantu Pungguk merah tua (Minahasa) atau Cinnabar boobook. Bernama latin Ninox IOS. Burung hantu ini asli dari Sulawesi utara dan Gorontalo. Ciri fisik burung ini yaitu tubuhnya berukuran 22 cm, warna bulunya bercorak merah kecoklatan atau merah karat, sedangkan warna  bagian bawah tubuhnya berwarna merah kehitaman, iris matanya berwarna kuning dan paruhnya berwarna putih / abu-abu. Burung ini memakan Serangga yang berukuran kecil. Status konservasi burung ini "Rentan Terancam" (Vulnerable) bersumber data IUCN Red list Dan CITEZ".

Itulah ketujuh jenis burung hantu terancam punah di Indonesia. Dengan mengetahuinya , harapan kedepan agar kita ikut andil dalam menjaga kelestarian jenis burung hantu yang terancam punah dan mensosialisasikan kepada khalayak umum untuk tidak memburu atau memperjual-belikan. 

Referensi :
wikipedia.org
alemendah.org
Mongabay.co.id

Belum ada Komentar untuk "Jenis Burung Hantu Terancam Punah di Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel