Iklan

Perlindungan Burung Hantu Di Indonesia

Perlindungan Burung Hantu Di Indonesia

Pernahkah anda ke pasar hewan dan melihat burung hantu.? Pastinya tidak hanya burung hantu saja  tapi ada banyak aneka macam hewan yang dijual disana. Pernahkah anda berpikir salah satu hewan yang dijual di pasar hewan itu ternyata langka atau bahkan dilindungi.? Jika ada mungkin penjual maupun pembeli belum tahu hewan tersebut langka dan dilindungi dikarenakan minimnya informasi. Oleh sebab itu pentingnya sosialisasi hewan langka dan dilindungi. Lalu siapa saja yang melakukan sosialisasi.? Yang jelas bukan hanya pihak pemerintah namun masyarakat maupun komunitas pecinta hewan. Disini kesadaran diri masing - masing sedang diuji, terutama orang-orang yang sangat cinta kepada hewan namun hewan tersebut statusnya langka dan dilindungi. Jika cinta terhadap hewan tak perlu memiliki atau memeliharanya  karena cinta tidak harus memiliki hehehe. Lantas bagaimana perlindungan burung hantu di Indonesia.? Mari kita bahas dan diskusikan bersama-sama tentang perlindungan burung hantu di Indonesia.

Baca juga : Kenali burung hantu beserta manfaatnya

Burung hantu adalah salah satu burung pemakan daging (karnivora)  yang populer dan banyak diminati oleh para pecinta burung. Karena uniknya burung tersebut, mulai dari bentuk wajahnya yang menyeramkan, sayapnya yang besar dan lebar, bulunya yang lurik kecoklatan, dan merupakan pemangsa yang hebat. Ditambah  semakin banyaknya komunitas burung hantu, tentu berdampak terhadap nilai jual burung tersebut yang beragam dipasaran. Burung hantu yang biasa dijual dipasaran adalah jenis dari Jawa, Sunda, Sumatera, dan Kalimantan seperti  Burung hantu Celepuk, Burung hantu Oriental, Burung hantu Javan owlet, Burung hantu Strix Seleputo, Burung hantu Brown Hawk Owl, Burung hantu Buffy Fish Owl, Burung hantu Bubo Sumatranus Dan lain-lain. Untuk harganya sangat variatif mulai dari Rp 70.000 - Rp 1.000.000/ekor, tergantung jenis dan ukuran burung hantu. Padahal burung hantu sangat penting bagi ekosistem karena memegang peran sentral dalam rantai makanan dan juga banyaknya manfaat burung hantu di sektor pertanian sebagai predator alami pembasmi hama tikus. Maka dari itu tak seharusnya Burung hantu dijadikan hewan peliharaan. Lantas bagaimana populasi burung hantu di alam liar. Khususnya di Indonesia? Apakah jumlahnya masih banyak.? Populasi burung hantu di alam liar sementara belum ada pencatatan yang komprehensif dan pasti. Walau ada sejumlah riset yang dilakukan namun  hanya terlokalisasi lingkup kecil. Diharapkan komunitas-komunitas pecinta burung hantu melakukan pendataan di masing-masing daerah di Indonesia agar kita tahu jumlah populasi di alam liar mengingat pentingnya perlindungan burung hantu supaya tidak punah. Total ada 54 jenis burung hantu di Indonesia dan terdapat 16 jenis burung hantu yang semakin sedikit jumlahnya dan berstatus dilindungi berdasarkan peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 92 tahun 2018 tentang jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. 

The Owl World of Indonesia adalah salah satu organisasi peduli burung hantu dan beranggapan bahwa burung hantu Tak seharusnya dipelihara karena hewan itu termasuk Satwa liar. " Burung hantu yang diperdagangkan diambil langsung dari alam, jika burung itu terus dijual-belikan untuk dijadikan hewan peliharaan maka keberlangsungan hidupnya dan populasi burung hantu akan terancam " kata antropolog dari The Owl World of Indonesia, Dyah Wara Restiati di Jakarta, Jumat 16 September 2018. Kebanyakan pemelihara burung hantu juga tidak memperhatikan kebersihan kandang dan tempat yang sempit, hal itu bisa menyebabkan hewan terserang penyakit. Tak jarang pemelihara burung hantu memaksa untuk bangun disiang hari oleh pemiliknya hal itu bisa mengakibatkan burung hantu Stress. Oleh sebab itu perlunya perlindungan burung hantu dan juga langkah efektif untuk menurunkan penjualan burung hantu. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga sudah berupaya menerapkan denda yang tinggi bagi yang melakukan perdagangan hewan liar dan dilindungi. Dengan demikian diharapkan perdagangan satwa liar dan dilindungi angkanya dapat menurun. Berikut 16 jenis burung hantu yang dilindungi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Strigidae
  1. Pungguk  Togian (Ninok Burhani)
  2. Pungguk Merah-tua (Ninox Ios)
  3. Celepuk Flores (Otus Alfredi)
  4. Celepuk Jawa (Otus Angelinae)
  5. Celepuk Biak (Otue Beccarii)
  6. Celepuk Raja (Otus Brookii)
  7. Celepuk Sangihe (Otus Collari)
  8. Celepuk Enggano (Otus Enganensis)
  9. Celepuk Rinjani (Otus Jolandae)
  10. Celepuk Sulawesi (Otue Manadensis)
  11. Celepuk Banggai (Otus Mendeni)
  12. Celepuk Mentawai (Otus Mentawi)
  13. Celepuk Siau (Otus Siaoensis)
  14. Celepuk Simalur (Otus Umbra)
Tytonidae
  1.  Serak Minahasa (Tyto Inexspectata)
  2. Serak Taliabu (Tyto Nigrobrunnea)
Konservasi satwa burung hantu oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan perlu dimaksimalkan karena hal itu sebagai upaya mempertahankan populasi burung hantu di alam liar. Diharapkan semua pihak turut membantu melakukan sosialisasi  perlindungan burung hantu ke masyarakat, agar keberlangsungan hidup burung hantu tetap terjaga dan tidak terancam punah.







Belum ada Komentar untuk "Perlindungan Burung Hantu Di Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel